Semarang, September 2014 #throwbackwhenimpregnant

 

Sore itu10665155_10203951648945768_4604281499002081395_n di taxi, saya agak panik. Jalanan Jakarta ternyata macet semua, termasuk tol yang saya lalui, padat. Saya janji bertemu dengan suami saya di stasiun Gambir untuk kereta menuju Semarang. Alhamdulillah waktu saya sampai, kereta baru akan berangkat 1 jam kemudian, saya dan suami bergegas naik.

 

 

10600488_10203951648065746_448814177239128150_n

 

Kereta yang kami tumpangi terisi semua, kelihatannya semua hendak mudik karena saat itu adalah akhir pekan. Saya melihat keluar jendela, langit sudah mulai gelap. Kami memang sengaja memilih perjalanan malam agar kami bisa istirahat.
10670094_10203951911072321_8059140447456399250_n

10369173_10203951666306202_1038213724980896977_nDelapan jam perjalanan kami lalui, akhirnya tiba di Stasiun Tawang. Kami dijemput oleh salah satu keluarga suami kami dan berencana menginap di rumahnya. Sebelum pulang ke rumah, kami diajak makan di daerah Simpang Lima Semarang. Tidak disangka, ternyata walaupun sudah larut malam, masih ramai dan banyak yang masih menikmati kuliner khas Semarang. Ada beberapa pilihan makanan seperti, Tahu Petis, Tahu Campur, Nasi Goreng Babat, Babat Gongso, Lontong Sayur dan masih banyak lagi. Setelah selesai makan, kami pun pulang untuk melanjutkan istirahat.

Keesokan paginya, kami langsung bersiap untuk jalan-jalan keliling Kota Semarang. Kebetulan saat itu waktu kami sangat sempit.

10474270_10203951647265726_4822681800108780909_nTujuan pertama kami adalah Pelabuhan Tanjung Mas,  Pelabuhan yang dikelola oleh PT PELABUHAN INDONESIA III (PERSERO), diresmikan pada tahun 1985 merupakan satu-satunya pelabuhan di Kota Semarang Pelabuhan ini sebelumnya bernama Pelabuhan Semarang, yang dahulu berupa sungai kecil atau Kali Semarang yang menjadi satu-satunya urat nadi pengangkutan barang-barang dengan perahu dari dan ke kapal samudera yang berlabuh di lepas pantai. Saat ini pelabuhan digunakan untuk beberapa Pelayanan, seperti Pelayanan Kapal, Pelayanan Barang, Pelayanan Terminal, Palayanan Tanah, Bangunan, Air, dan Listrik.

10616086_10203951605064671_1641562192790639868_nSetelah itu, kami meneruskan perjalanan kami ke Museum Transportasi yang lebih dikenal dengan sebutan Lawang Sewu yang artinya Seribu Pintu karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak, meskipun kenyataannya, jumlah pintunya tidak mencapai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).

Tepat di depannya, ada Tugu Pemuda yang juga sarat akan sejarah. Tugu Pemud1509751_10203951673346378_807826886117991624_na yang bentuknya seperti lilin ini dibangun untuk mengenang peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang. Diresmikan pada tanggal 20 Mei 1953 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Oleh Ir. Soekarno, tugu ini menjadi salah satu tempat yang menarik minat wisatawan dan warga sekitar untuk bersantai karena adanya taman di sekeliling yang sangat terawat.

Di Semarang, ada pula area yang mirip seperti Kota Tua di Jakarta, namun di sini namanya Kota Lama. Bangunan yang ada di sekitar Kota Lama pun masih terjaga keasliannya dan sangat terawat. Bangunan yang kokoh dan cat-cat yang masih sangat baik (mungkin selalu diperbaharui) sangat cantik untuk menjadi objek foto.

10580252_10203951653625885_3454363986003392146_n 10622880_10203951656185949_4501564031644825152_n 10629817_10203951654265901_4039771853855259414_n 10686834_10203951655225925_8031829048216804242_n10409431_10203951661826090_1221620959621751326_n

Hari s10606133_10203951674066396_7531014006144012341_nudah semakin sore dan langit sudah semakin gelap, kami bergegas melanjutkan perjalanan kami menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Kami melaksanakan shalat Maghrib dan Isya di sana. Sungguh masjid yang megah. Jemaatnya pun banyak, selain warga sekitar, para wisatawan dan yang tidak sengaja melalui masjid ini di perjalanan.

Akhirn10672182_10203951667106222_824970164957155963_nya malam tiba, kami memilih menghabiskan waktu kami di daerah Simpang Lima lagi karena belum sempat menikmati loenpia khas Semarang atau biasa disebut lumpia.

Sebenarnya di sepanjang jalan Padanaran, ada banyak toko oleh-oleh yang menyediakan Loenpia, namun pilihan kami jatuh pada Loenpia Semarang DJOE, karena selain rasanya enak, tempat parkirnya nyaman dan pelayannya sangat ramah. Loenpia dapat dibawa pulang ataupun dimakan di tempat. Untuk oleh-oleh yang dibawa pulang pun ada beberapa pilihan seperti Bandeng Presto, Wingko Babad, Moaci dan masih banyak lagi. Sekedar informasi, di Semarang ada shuttle bus untuk city tour, dan salah satu shelter pun berada tepat di depan Toko oleh-oleh ini. ( http://news.detik.com/berita-jawa-tengah/2787029/asyiknya-jalan-jalan-di-semarang-naik-shuttle-bus-gratis ) Wisatawan domestik maupun asing dapat menumpangi bis ini untuk mengelilingi kota Semarang secara gratis.

Jl. Pandanaran No. 51
Semarang, Jawa Tengah
Telepon: (024) 8318663
Fax: (024) 844 7176

Keesokan harinya, saya dan suami pun kembali ke Jakarta menggunakan kereta dari stasiun Tawang. Rasanya liburan sangat singkat, sehingga harus melakukannya secara maraton dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun kami sangat puas dengan berbagai kuliner yang sangat lezat dan tempat-tempat yang sangat bersejarah. Hope to visit Semarang again… ^_^

10603746_10203951910312302_2208858046521139922_n

10612761_10203951668826265_1058670871772927170_n

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s