Bromo, 2015

Ke Bromo bawa bayik?

Pasti orang langsung bilang, “Are you out of your mind?”

Sama sih, waktu muncul ide liburan ke Bromo sama suami, agak ragu juga bawa bayik. Lalu saya langsung browsing banyak info tentang Bromo, situasi terbaru dan apa aja perlengkapan yang diperlukan untuk disana. Setelah saya buka beberapa blog, ternyata banyak juga blogger – blogger yang cerita tentang liburan bersama bayiknya ke Gunung Bromo. Fiuhhhh… Walaupun tenang, tetep siapin semua perlengkapan bayik selengkap-lengkapnya.

Waktu 11914899_10206416662449565_8311772677748855793_nitu rencananya kita mau lihat sunrise, menurut info, suhu di Gunung Bromo pada saat pagi hari akan sangat dingin, jadi si bayik saya pakaikan baju 2 lapis beserta kaus kaki, sarung tangan dan jaket bulu angsa, supaya hangat.

Awalnya kami akan memulai perjalanan dari Surabaya pukul 21.00, namun karena kami baru selesai menghadiri pernikahan saudara disana, kami siap-siap dan pamit dulu, lalu berangkat pukul 00.00. Kami memilih pintu masuk dari Probolinggo, tepatnya jalur Cemorolawang supaya bisa lebih dekat ke area Gunung Bromonya. Perjalanan malam sangat lancar namun karena ini pertama kalinya kami di daerah sana jadi sedikit kesulitan mencari arahnya. Syukurlah ada GPS, sangat membantu.

Disana, kami sudah janjian dengan supir Jeep, tepatnya di terminal Gunung Bromo. Mendekati terminal tersebut, perjalanan mulai mendaki, sempat buka kaca jendela dan udaranya sangat dingin. Di kiri dan kanan sudah mulai banyak motor-motor yang konvoi, mobil pribadi lainnya dan beberapa Jeep agensi pariwisata yang lebih dulu menjemput turisnya di daerah asal terdekat. Saat itu matahari sudah hampir terbit. Kami terlambat sampai di Gunung Bromo karena ternyata jalan menanjak menuju terminal di atas sangat padat dan macet.

11863371_10206416653809349_7705836535726876713_nLalu mobil-mobil dan motor mulai banyak yang menepi, ternyata mereka tetap tidak mau kehilangan momen sunrise, kami pun ikut menepi. Suami saya keluar mobil duluan membawa kameranya, sementara saya menyiapkan anak saya dengan jaketnya, namun dia masih tertidur, jadi saya keluar sebentar dan… Udaranya sangat dingin, anginnya juga sejuk dan kabut dimana-mana.  Tak lama kemudian si bayik bangun, saya kembali ke dalam mobil dan memeluknya supaya tetap hangat.

Setelah mengantri cukup lama (lama banget), pukul 07.00 Akhirnya kami tiba di terminal Gunung Bromo. Kami langsung berpindah ke mobil Jeep dan memulai pendakian. Perjalanan dengan Jeep karena jalur yang berliku dan naik turun, maka cocoknya dilalui dengan mobil jenis ini.

Tiba di Padang Pasir, ada banyak kuda yang siap disewa untuk melanjutkan pendakian ke kaki Gunung Bromo, harga sewa satu kali jalan Rp.50.000,- hingga Rp.70.000,- pintar-pintarnya kita menawar. Sebenarnya ada banyak turis yang berjalan kaki, namun karena beberapa alasan yaitu, pertama, jaraknya sekitar 1km, yang kedua, kami membawa bayik, dan yang ketiga karena kami ingin merasakan sensasi menunggang kuda, Akhirnya kami menyewa dua kuda, satu untuk saya dan satunya untuk suami saya.

Perja11892247_10206416663409589_9039932893176510703_nnjian awal, yang bawa bayik di atas kuda itu suami saya karena saya pun sendiri agak takut naik kuda. Jadi akan lebih aman kalau si bayik sama bapaknya. Namunnnn… pada saat dipindah dari gendongan saya ke bapaknya, JRENGG!! JREENGG!!! BAYIKNYA NANGISSS…

YAA Allah… saya lemasss.
Dengan terpaksa saya yang gendong sambil cerewet banget ke pemandu kudanya untuk berjalan perlahan-lahan karena saking takutnya setiap kali kudanya melangkah. Selama perjalanan naik, saya sangat tegang sampai ngga mampu menoleh sedikitpun karena takut ngga seimbang.

11888012_10206416655609394_8841531472535226930_nAkhirnya sampai di pemberhentian kuda, sudah cukup di atas, namun untuk melihat kawah, kami harus menaiki ratusan anak tangga. Ada banyak pengunjung pagi itu, maka antrian naik pun cukup panjang jadi lumayan sih bisa istirahat setiap langkah naik tangganya. Dari bawah hingga atas tersedia beberapa tempat istirahat, jadi jangan khawatir bila kelelahan, bisa menepi untuk istirahat dan duduk.

11885374_10206416656129407_1879848349476776895_nSaya sebenarnya takut ketinggian, jadi selama penanjakan ngga berani menoleh ke bawah. Walaupun ngos-ngosan, tetap semangat hingga ke puncak. Namun tiba-tiba si bayik menangis dan minta nyusu. Alhamdulillah ASI, jadi praktis dan cepat sedia, hihihi…

Setelah mencapai tempat istirahat, saya duduk dulu sambil menyusui. Setelah selesai, kami melanjutkan pendakian.

Walaupun di blog dan di internet saya baca banyak bayik yang dibawa ke Gunung Bromo, tapi pada saat itu, saya dan bayik saya tetap jadi pusat perhatian. Kadang terdengar bisik-bisik orang lain, “Wah ada bayi…”. Sebagian bernada takjub, sebagian nada ngga tega… :p.

Namun sisi baiknya adalah kami jadi lebih didahulukan pada saat jala, banyak yang bantu dan banyak yang menggoda si bayik. Lucu sekali memang wajahnya saat itu melihat banyak sekali orang di sekitarnya. Lucunya, begitu tiba di puncak kawah, ada beberapa bapak-bapak yang menggunakan baju adat (mereka baru selesai upacara adat khas warga Gunung Bromo?) langsung menyalami saya, “Selamat ya Bu, sudah berhasil!”, kata mereka. Saya langsung bengong.

Hihihihi…..

11863508_10206416659609494_4111528912546559973_n

Bahagia sekali rasanya bisa menikmati keindahan panorama kawah Gunung Bromo dan pemandangan sekitarnya. Lelah saat menanjak, hilang seketika. Saat itu kami tidak dapat berlama-lama di atas karena jumlah dan kapasitas orang disana yang sangat minim dan udara yang keluar dari kawah tidak baik untuk dihirup terlalu lama. Lalu kami turun dan menunggangi kuda kami kembali.

Perjalana11873663_10206416660609519_6202070696990468544_nn turun gunung dengan kuda sudah tidak terlalu menegangkan. Saya mulai menikmati dan santai. Ternyata kuncinya, ikuti irama kaki kudanya maka kita akan tetap seimbang.
Kami tiba di padang pasir dan berfoto di depan Gunung Batok yang ngga kalah indahnya dengan Gunung Bromo utama.

Setelah matahari sudah tinggi, suhu pun naik dan banyak sekali angin, pasir-pasir ikut terbang. Baiknya menggunakan masker untuk melindungi pernafasan. Puas menikmati padang pasir Gunung Bromo dan minum di tenda-tenda di area tersebut, kami kembali ke terminal. Pada saat itu sudah pukul 12.00, kami menyewa homestay untuk istirahat setengah hari, niatnya mau tidur siang dulu, namun udara yang sangat dingin membuat kami tidak dapat memejamkan mata, maka kami hanya makan siang dan shalat disana.

11896105_10206416661289536_2087262155844263200_nPemandangan saat perjalanan turun dari area Gunung Bromo tidak kalah indah, ditambah langit sudah terang, semua tampak jelas.

Sungguh karunia Yang Maha Kuasa.

With Love,

RIY

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s